Pertanyaan awalan yang layak untuk dikemukakan pada saat ini, dengan kondisi masyarakat, negara, dan dunia seperti sekarang, salah satunya adalah, sudahkah kita semua mencapai kondisi sempurna untuk sebuah peradaban atau kita masih berada pada status quo yang membutuhkan dorongan semangat untuk berubah? pertanyaan ini, saya yakin, akan memancing jawaban yang bermacam-macam dari masing-masing orang. hal ini wajar karena kondisi psikologis, pemahaman, pengalaman dan latar belakang masing-masing orang yang berbeda-beda. ada kemungkinan akan muncul jawaban bahwa kondisi saat ini memang sudah berada pada posisi final dan tidak perlu untuk diotak-atik lagi, perubahan hanya akan menimbulkan masalah saja. jawaban seperti ini kecenderungannya muncul dari orang-orang yang memang sudah merasa puas dengan kondisi sekarang, salah satunya karena kebutuhan primer, atau bahkan sampai pada kebutuhan tersiernya sudah bisa terjamin pemenuhannya. beda halnya dengan orang yang berada pada kondisi yang sebaliknya, dengan adanya banyak tekanan hidup yang menghadangnya. jangankan untuk memenuhi kebutuhan sekunder atau tersiernya, pemenuhan kebutuhan primerpun bisa dikatakan susah luar biasa. dari golongan orang seperti inilah bisa dipastikan akan muncul jawaban bahwa kondisi sekarang belum final yang memaksa mereka untuk berpikir keras untuk melakukan perubahan. perubahan dalam sudut pandang ini bisa dalam bentuk perubahan kecil seperti penambahan atau pengurangan elemen atau penyesuaian elemen yang memang sudah ada, yang intinya bentuknya masih tidak jauh beda dengan kondisi sebelumnya. tetapi, seperti apa yang dikemukakan oleh filsuf terkenal yunani, aristoteles dalam bukunya politics, kecenderungan perubahan yang muncul adalah perubahan yang ekstrim, inilah yang disebut dengan revolusi. sejarah pun telah banyak membuktikan tentang hal ini, dari revolusi uni sovyet, prancis, inggris, arab, iran dan lain sebagainya, semuanya mempunyai pola perubahan yang serupa dengan pola yang kedua tadi. kemudian ketika kita mencoba meng-konteks-kan permasalahan ini pada kondisi riil kita sekarang ini dari sudut pandang perubahan tadi, maka juga akan muncul dua pendapat yang saling berkebalikan. disatu sisi mereka menyatakan bahwa kondisi sudah memuaskan dan tidak perlu untuk diganti, di sisi lain menuntut adanya perubahan atas kondisi yang menekan hidup merekan. poin penting pada permasalahan ini adalah keobjektifan pendapat dari masing-masing pihak. kecenderungan manusia dalam menyatakan pendapatnya memang didasarkan kepada kondisi nyata yang terjadi pada dirinya. jika seseorang sudah merasa nyaman, maka kata itulah yang akan diungkapkan. begitu juga dengan pihak yang masih merasa kurang, maka kata itulah yang akan diungkapkan. tetapi tidak serta merta kita menerima kedua pendapat tersebut tanpa adanya sedikit analisis yang bisa membuktikan kebenaran yang ada. hal ini karena tidak mungkin ada dua hal yang saling berkebalikan dan saling mengeliminasi dalam satu waktu dikatakan benar semuanya. dengan demikian hanya ada satu pendapat dari dua pendapat tadi yang memang sesuai dengan kondisi riil yang kemudian bisa disebut dengan kebenaran.
sekarang marilah sedikit saja kita tilik kondisi sebenarnya dari peradaban manusia yang ada sekarang ini. bagi orang yang masih dalam kondisi sehat dengan panca indra dan akal yang berfungsi dengan baik, baik orang itu berada dalam kondisi yang kurang atau berlebih, kecenderungannya akan membenarkan pendapat yang kedua. demikian mudahnya bagi kita untuk mencapai kesimpulan bahwa pendapat yang kedua adalah yang lebih sesuai dengan relitas yang ada. kemiskinan, kebodohan, kelaparan, birokrat yang oportunis dan pragmatis, politik kepentingan yang hanya memihak kepentingan mereka saja, pembodohan masyarakat oleh kalangan tertentu untuk menjamin tercapainya tujuan mereka seperti halnya politikus kita (goddamn politicians!!!), dekadensi moral, sex bebas, pembunuhan dan pembantaian yang terus terulang karena lemahnya hukum dan para pengadil yang perlu untuk diadili dahulu sebelum meraka mengadili orang lain, pendidikan mahalnya minta ampun hingga muncul adagium 'orang miskin dilarang sekolah', kesehatan dibisniskan hingga muncul ungkapan 'orang miskin dilarang sakit', dan sebagainya.... ini hanyalah sedikit sekali contoh yang bisa menjelaskan betapa kita memang berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan bagi sebagian besar rakyat. dengan demikian jelaslah sudah pendapat mana yang lebih sesuai.
dengan kondisi yang tadi diungkapakan, maka akan muncul pertanyaan yang kedua, yaitu lalu apa yang harus diperbuat? bagaimana cara kita untuk merubahnya? dan lainnya yang menunjukan kebingungan mereka tentang manajemen perubahan. secara naluriah, manusia mempunyai potensi untuk merubah kondisi untuk mencapai kondisi yang nyaman dan menguntungkan ketika ada tekanan dari pihak eksternal. hanya saja perubahan yang muncul biasanya bersifat reaktif terhadap kondisi yang menekannya. hal ini tidak salah, hanya saja falsafah kebangkitan yang muncul dari kondisi ini tidak bisa mencapai makna kebangkitan yang sesungguhnya. perubahan yang reaktif biasanya akan segera berakhir ketika kondisi yang mengganjal dan mengganggu mereka sudah berakhir. perubahan seperi inilah yang hampir selalu muncul pada peradaban manapun. revolusi perancis terjadi karena reaksi dari kaum proletariat yang terjajah dan terdzolimi oleh para bangsawan dan rohaniawan kristiani dalam sistem pemerintahan theokrasi, revolusi rusia, iran dan sebagainya juga tidak jauh berbeda, semuannya adalah tindakan reaktif dari kondisi yang membelenggu mereka.
sekarang mari kita relevansikan konsep tadi dengan kondisi yang ada pada negara kita saat ini. kondisi riil memberikan penjelasan kepada kita bahwa kondisi ini masih dalam status quo dan perlu segera untuk dirubah, kondisi ini pada kenyataannya memang akan memakasa orang-orang yang berada di dalamnnya untuk merubah kondisi ini, apapun caranya!! adanya kenyataan yang buruk kemudian memicu orang-orang untuk merubah dan merekapu bergerak untuk merubah kondisi. cukupkah hanya dengan metode seperti itu? tidak, tidak semudah itu dalam merubah. ada banyak sekali orang, bahkan sangat banyak, yang sadar akan kondisi buruk yang melingkupi kita saat ini. merkapun tidak kurang-kurang telah berusaha sekuat tenaga untuk mencapi tujuan mereka, 'perubahan hakiki untuk kemaslahatan umat'. banyak sekali jumlah perkumpulan atau kelompok yang mengatasnamakan dirinya sebagai agen perubahan, baik itu organisasi sosial, massa, ataupun partai politik. semuannya mempunyai tujuan yang sama, 'perubahan menuju yang lebih baik'. dari jaman sebelum perjuanngan kemerdekaan, saat kemerdekaan, setelah kemerdekaan hingga sekarang ada sangat banyak organisai dan perkumpulan yang mencoba untuk menjadi pioneer perubahan. taruhlah nu, muhamadiah, syarekat islam, bahkan pki sekalipun, mereka adalah beberapa contoh agen perubahan yang mencoba untuk merubah kondisi. hingga saat inipun terdapat berbagai jenis organisasi, perkumpulan dan partai yang serupa. pertanyaan kemudian yang muncul adalah, apakan perkumpulan, organisasi dan partai tersebut dengan perjuangannya sudah mampu untuk mencapai perubahan menuju kondisi yang 'lebih baik'? jawabannya adalah belum, atau sampai kapanpun tepap belum!!
ada beberapa alasan mengapa hal ini terjadi. saya tidak menafikan bahwa mereka telah berusaha dengan giat dan sangat keras untuk mencapai tujuannya, hanya saja ada beberapa hal yang perlu untuk dikritisi terkait dengan metode yang mereka pakai dalam misi mereka. saya juga paham, walaupun tiap-tiap perkumpulan mempunyai tujuan yang sama tetapi mempunyai sudut pandang, pemahaman dan pemberian solusi yang berbeda-beda yang pada tataran selanjutya juga akan memunculkan perbedaan pada metode masing-masing pergerakan. akan tetapi saya rasa perlu untuk mengungkapkan hal-hal yang kurang sesuai tadi. ada beberapa hal yang menjadi perhatin bagi saya, yang pertama adalah pergerakan-pergerakan tersebut masih berdiri pada pemikiran yang masih bersifat umum tanpa ada batasan yang jelas bahkan kabur atau samar, padahal pemikiran yang dijadikan asas bagi suatu pergerakan harus bisa dikristalisasi dan penyucian. kedua, gerakan-gerakan tersebut tidak memahami metode untuk mengaplikasikan pemikiran-pemikirannya, bahkan pemikiran tersebut diaplikasikan dengan cara yang serampangan dan kacau. ketiga, pergerakan-pergerakan tersebut bertumpu pada orang-orang yang tidak mempunyai kesadaran dan kehendak yang benar. mereka adalah orang-orang yang berbekal keinginan dan semangat saja. keempat, orang-orang yang memikul tugas-tugas pergerakan tidak memiliki ikatan yang benar, kecuali hanya sekedar ikatan keorganisasian. ikatan yang menyatukan mereka hanyalah ikatan-ikatan yang didasarkan pada sejumlah deskripsi kerja dan jargon-jargon belaka.
itulah beberapa poin kritis yang menjadi faktor kegagalan perkumpulan, organisasi, ataupun partai dalam mewujudkan perubahan yang lebih baik. apakan hal ini akan kembali terulang dan akan terus terulang yang juga akan mengulangi kegagalan yang sama? inilah saatnya bagi semua pergerakan untuk mengevaluasi kinerja mereka sejauh ini, apa yang sudah tercapai dan yang belum. akan sangat tidak bijak bagi seorang manusia untuk terjerembab dilubang yang sama berulang kali. sungguh memalukan!! pemikiran baru perlu untuk dimunculkan yang didasarkan pada pengamatan yang mendalam dan menyeluruh terhadap realitas yang ada untuk kemudian bisa ditentukan metode perubahan yang tepat dan terbaik.
untuk jawaban atas metode terbaik dalam manajemen perubahan akan dipaparkan pada artikel selanjutnya.
Read More..
what's wrong with the present civilization? I think everything is good, I feel comfort and happy in passing my life. why does it need to be changed? is it proper question for today condition? I don't think so..... just open your eyes for a few moments, and see what happen surround you, then conclude what this life seems like.... so many think which need to be changed if we wanna the better condition. We need more than just a change, I mean a Revolution!!
Selasa, 29 Januari 2008
Falsafah Kebangkitan Menuju Kehidupan Terbaik
Diposting oleh
'revolution', just the matter of time!
di
Selasa, Januari 29, 2008
0
komentar
Rabu, 23 Januari 2008
Berpikir Cemerlang

Bagaimanapun juga, pemikiran akan selalu ada dan terus ada selama seseorang masih waras dan sehat, bahkan orang yang tidak waras pun juga bisa demikian. entah bagaimana mulanya hingga pemikiran dari seseorang menempati posisi yang penting, setidaknya menurut saya. pasti terdapat berbagai macam penjelasan dari banyak teori yang manjelaskan asal mula adanya pemikiran, bahkan asal mula kehidupan ini. tetapi tetap saja, dari penjelasan dari masing-masing akan terus mempunyai tendensi untuk saling membenarkan 'pendapat' yang mereka anut. pendapat yang salah mungkin akan dengan mudah dapat diterima, juga sebaliknya pendapat yang pada hakikatnya salah bisa saja diterima dengan mudahnya. hal ini terkait dengan fitrah manusia yang cenderung untuk menerima sesuatu yang bisa memberikan keyakinan lebih pada mereka. jadi walaupun pendapat yang disampaikan oleh seseorang tentang awalmula kehidupan ini ,semisal, adalah salah, tetapi bisa 'terlihat benar' tergatung dari kapabilitas dan kecerdikan dari orang yang menyampaikan. dengan demikian kita memang perlu untuk menjadi sedikit cerdas untuk bisa mengerti mana kebenaran dan mana yang salah betul, jangan sampai menjadikan sesuatu yang salah menjadi keyakinan kita akan kebenaran.
artikel ini tidak akan membicarakan masalah teori-teori tentang kebenaran, tetapi masalah pemikiran masing-masing orang yang unik. disadari atau tidak, pemikiranlah yang menjadi titik tolak semua orang dalam semua kegiatannya. semuanya diawalai dari pemikiran yang kemudian mewujudkan pemahaman dan akhirnya akan menimbulkan persepsi tentang realita yang ada yang menjadi landasan berfikir. tindakan semua orang selalu mengikuti pola ini, dari pemikiran kemudian pemahaman, yang akhirnya memunculkan persepsi tentang sesuatu yang akan mempengaruhi kualitas aktivitas dan perilaku dari masing-masing orang. tahapan berfikir sendiri mempunyai beberapa syarat agar bisa berfikir cemerlang. ada empat syarat, yaitu adanya fakta atau realitas, adanya panca indra yang akan menjadi alat pencerap realitas tadi, adanya akal dan adanya informasi sebelumnya. empat hal tadi itulah yang akan menajadi prasyarat berpikir secara cemerlang. tidak adanya salah satu unsur tadi tentu akan mempengaruhi kualitas berfikir yang dilakukan. dengan demikian setiap orang mempunyai potensi untuk bisa berfikir secara cemerlang, kecuali beberapa orang tertentu yang tidak bisa memperoleh semua elemen tadi.
artikel ini tidak akan membicarakan masalah teori-teori tentang kebenaran, tetapi masalah pemikiran masing-masing orang yang unik. disadari atau tidak, pemikiranlah yang menjadi titik tolak semua orang dalam semua kegiatannya. semuanya diawalai dari pemikiran yang kemudian mewujudkan pemahaman dan akhirnya akan menimbulkan persepsi tentang realita yang ada yang menjadi landasan berfikir. tindakan semua orang selalu mengikuti pola ini, dari pemikiran kemudian pemahaman, yang akhirnya memunculkan persepsi tentang sesuatu yang akan mempengaruhi kualitas aktivitas dan perilaku dari masing-masing orang. tahapan berfikir sendiri mempunyai beberapa syarat agar bisa berfikir cemerlang. ada empat syarat, yaitu adanya fakta atau realitas, adanya panca indra yang akan menjadi alat pencerap realitas tadi, adanya akal dan adanya informasi sebelumnya. empat hal tadi itulah yang akan menajadi prasyarat berpikir secara cemerlang. tidak adanya salah satu unsur tadi tentu akan mempengaruhi kualitas berfikir yang dilakukan. dengan demikian setiap orang mempunyai potensi untuk bisa berfikir secara cemerlang, kecuali beberapa orang tertentu yang tidak bisa memperoleh semua elemen tadi.
adanya pemenuhan tahapan pemikiran tadi bisa menjadi pengantar bagi setiap orang untuk berfikir dengan benar dan untuk memperoleh kebenaran yang sebenarnya. oleh karenannya ketika pemikiran seseorang salah, maka dalam tahapan pemahaman dan pemunculan persepsi juga akan salah yang kemudian pada tahap aktifitasnyapun akan demikian juga. sebagi contoh, misal ada seorang pemuda yang mencintai seorang gadis yang sesuai dengan kualifikasinya. dari adanya realitas berupa gadis yang berparas cantik yang mampu untuk diindra pemuda tadi yang pada akhirnya dicerap oleh akal kemudian menjadi landasan berpikir bagi pemuda tadi, maka tahapan pemikiran pun terjadi. untuk kemudian, pemahaman dan persepsi yang mungkin akan muncul akan tergantung pada pemikiran ini. dengan adanya pemikiran bahwa gadis tadi cantik, tentu akan menimbulkan persepsi tertentu yang khas, yang kemudian akan berimplikasi pada tindakan, tingkah laku dan perbuatan dari pemuda tadi. kemungkinan besar pemuda tadi akan bertindak lemah lembut, penuh kasing sayang dan memberikan perhatian lebih kepada si gadis cantik. berbeda halnya ketika pemuda tadi membenci seorang gadis yang tidak disukainya, mungkin tindakan yang akan muncul akan berkebalikan dengan kondisi yang sebaliknya. mengabaikanya, meninggalkanya dan bahkan mencemoohnya adalah kemungkinan tindakan yang akan muncul.
jalaslah tadi betapa pemikiran menduduki posisi yang penting yang menjadikanya sebagai titik tolak dari setiap tindakan yang kita lakukan. oleh karenanya, akan menjadi keharusan bagi kita untuk bisa berpikir secara cemerlang dalam upaya untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya. selamat berfikir......
jalaslah tadi betapa pemikiran menduduki posisi yang penting yang menjadikanya sebagai titik tolak dari setiap tindakan yang kita lakukan. oleh karenanya, akan menjadi keharusan bagi kita untuk bisa berpikir secara cemerlang dalam upaya untuk mencapai kebenaran yang sebenarnya. selamat berfikir......
Read More..
Diposting oleh
'revolution', just the matter of time!
di
Rabu, Januari 23, 2008
0
komentar
Label: Pemikiran




