Pendahuluan
Beberapa pihak mengutarakan keoptimisan mereka akan perkembangan ekonomi syariah, atau ekonomi islam yang mulai berkembang untuk beberapa dekade ini. Beberapa dari mereka adalah para aktivis dakwah, para praktisi, dan juga para akademisi yang intens mengikuti perkembangan pergerakan ekonomi termasuk di dalamnya fenomena ekonomi syariah yang marak sekarang ini. Menjadi sesuatu yang wajar dan normal ketika ada sesuatu yang dianggap baru dan berpotensi untuk kemudian mendapat perhatian serius untuk mengembangkannya. terkait dengan hal itu, keberadaan ekonomi syariah saat ini tidak hanya dilihat dari sisi-sisi yang dianggap potensial dan juga adanya secercah harapan dari sistem ekonomi ini dalam pemberian solusi terhadap permasalahan yang ada, tetapi juga didukung dengan adanya semangat spiritual dari para pengembannya. Hal ini terkait dengan hubungan ekonomi islam dengan islam itu sendiri sebagai sebuah ideologi dan agama, dimana bagi seorang muslim adalah sebuah kewajian untuk mengamalkannya. Maka tidak heran akhir-akhir ini sangat kencang arus yang mendukung ekonomi syariah, bukan hanya dari umat muslim saja, bahkan noni juga mendukungnnya. Ekses dari wacana tadi adalah bermunculannya institusi keuangan sepeti bank dan lain-lain yang menjadi prototipe ekonomi islam pada saat ini. tetapi dibalik hingar bingar ekonomi islan ternyata terdapat postensi yang justru berkebalikan dari semangat awal ekonomi islam, yaitu penentangannya terhadap kapitalisme.
Faktor Pendukung Perkembangan Ekis
Kemunculan ekonomi islam kepermukaan dalam beberapa dekade terakhir ini tidak bisa dilepaskan pembahasannya dari kondisi ekonomi dunia yang melingkupinya pada saat ini. Isu utama yang turut memacu booming'nya wacana ekonomi islam adalah kegagalan sistem ekonomi utama dunia saat ini dalam memberikan kemaslahatan bagi semua umat manusia. Bagaimanapun juga, sama sekali tidak terelakan bahwa kegagalan dan ketimpangan ekonomi dunia saat ini dipicu dari penerapan ekonomi kapitalisme di hampir diseluruh dunia, kecuali bebrapa negara saja yang terap berusaha menerapkan ideologi sosialisnya, seperti rusia dan cina. Bahkan bisa dikatakan proporsi sumbangsih terhadap permasalahan ekonomi saat ini yang paling besar berasal dari penerapan sistem buatan manusia yang rusak ini.
Di sisi lain, perkembangan ekonomi islam juga didukung dengan semakin sadarnya umat muslim diseluruh dunia akan posisi dan kondisinya saat ini yang berada dalam keterbalakangan dan kehinaan. Mereka semakin sadar bahwa ada sesuatu yang salah, bahkan bertentangan dengan keyakinan utama mereka, yaitu aqidah mereka sendiri. Banyak sinyal dan tanda-tanda yang bisa dengan mudah membuktikan kondisi ini. Kiti bisa menjumpai betapa banyak kelompok islam dengan metodenya sendiri-sendiri berusaha untuk mencapai kebangikitan islam.
Faktor lain yang juga berpengaruh adalah jumlah para intelektual muslim di dunia ini yang mulai tersadar untuk tidak lagi mencintai sistem yang mereka anggap salah seperti misalnya sekularisme dan kapitalisme. Tentu hal ini mempunyai pengaruh yang sinifikan dalam perkembangan ekonomi islam.
Tujuan Utama Ekis
Menjadi penting untuk diketahui apa sebenarnya yang menjadi permasalahan pokok khususnya umat islam dan terkait pula dengan permasalahan ekonomi islam ini. Kalau kita menjoba meninjau apa sebenarnya kebutuhan kaum muslim di seluruh dunia saat ini , akan diketemukan beberapa kemungkinan.
Yang pertama, seperti juga diuraikan di atas, bahwa kondisi yang melingkupi umat islam saat ini, di mana cenderung identik kepada negara miskin kecuali sebagian kecil saja, adalah masalah ekonomi yang menghimpit. Lihat saja Indonesia atau Iraq atau ethiopia atau Palestin atau negari islam yang berada dalam posisi yang tidak nyaman, bahkan mengharukan. Kelaparan, kekurangan gizi, kelaparan, kebodohan, penindasan, kriminalitas dan hal-hal yang menyedihkan lainya menjadi indikasi betapa buruknya kondisi yang sedang melingkupi mereka.
Kemungkinan yang kedua adalah tuntutan dari aqidah mereka yang kemudian mengharuskan dan memaksa mereka untuk konsisten dan total dalam menjalankah segala hal yang mejadi implikasi dari keyakinan mereka, termasuk di dalamnya adalah masalah sistem ekonomi. Setia muslim telah dibebani hukum (taqlif) atas keyakinan mereka, terhadap individu masing-masing (seperti sholat, zakat, berhaji), tehadap jamaah (semisal partai atau jamaan tertentu) dimana mempunyai tanggung jawab untuk melaksanakan amar ma'ruf nahi munkar khususnya terhadap penguasa agar dalam pelaksanaan pemerintahannya tidak menyimpang dari syariat. Taqlif yang terakhir adalah yang dilaksanakan oleh negara untuk menjamin penerapan sistem kehidupan yang telah digariskan terhadapnya, semisal sistem hudud, ekonomi, politik, sosial, pendidikan, dan politik luar negeri dimana dari kesemua hal tadi tidak bisa dilakuakan tanpa adanya isntitusi yang menjaminnya, dalam hal ini adalah negara. Tetapi realita saat ini tidaklah demikian dimana hanya sebagian saja dari taqlif tadi yang bisa terlaksana, yaitu individu dan jamaah, tidak bagi negara. Dengan alasan dan kesadaran tadi maka akan menjadi paksaan bagi mereka untuk berusaha mencapainya karena dalam islam aqidah adalah utama. Dalam kemungkinan yang kedua ini cenderung di dorong oleh semangat religi, bukan seperti pada kemungkinan yang pertama yang lebih cenderung pada tinajuan manfaat yang akan diperoleh.
Permasalahan Eksi Saat Ini
Akan sangat banyak sekali argumen yang mendukung eksistensi dan pengembangan sistem ekonomi islam ini. Dan dengan alasan itulah mereka kemudian giat untuk membumikan ekonomi islam dalam tataran riil yang langsung menyentuh masyarakat dan berharap bisa memberikan manfaat lebih bagi umat.
Permasalahannya muncul ketika mereka telah berhasil memasukan konsep yang mereka yakini dalam tataran riil yang ditandai dengan bermunculannya berbagai institusi keuangan seperti asuransi, bank, dll. Secara tidak sadar mereka terjebak dalam pragmatisme yang menguntungkan kapitalisme dari sis yang lain. Mungkin akan terdengar begitu paradoksal dan sangat ironi,khususnya bagi mereka yang memang mempunyai pemahaman yang sama tentang ini.
Ciri utama dari kapitalsime adalah hasratnya yang begitu besar terhadap modal dan sumberdaya ekonomi yang bisa menjadi sarana memperkaya diri. Ketika ada kesempatan untuk itu, maka dengan berbagai strategi bisa mereka manfaatkan tanpa memandang asal-usul konsep tersebut. Begitu juga halnya dengan konsep sistem ekonomi islam yang dirasa dan dipandang merupakan bentuk baru yang potensial untuk dikelola.
Permasalahan ini bisa dilihat dari, semisal, adanya mata kuliah atau bakhan jurusan baru yang khusus membahas masalah ekonomi islam di kampus-kampus unggulan di negri-negeri sekuler seperti di oxford, berkeley dll. Kemudian kesibukan para praktisi di negara kita dengan angka-angka yang menunjukan seberapa besar perkembangan modal mereka, seberapa besar market share mereka, seberapa besar keuntungan yang diperolehnya pada periode ini, strategi memperluas jaringan dll yang tekait dengan instrumen yang berbau syariah yang mencerminkan bahwa mereka, kaum muslim, sudah menyimpang dari tujuan awal mereka yang mulia.
Permasalahan yang muncul kemudian ketika sistem ekonomi islam yang di wakilkan denga institusi-institusi keuangan yang ada saat ini telah mampu berkembang dan membesar. Disadari atau tidak, aplikasi sistem ekonomi islam pada institusi keuangan yang saat ini ada adalah berada pada sistem yang bukan, bahkan bertentangan dengan sistem yang seharusnya, yaitu islam. Hukum kausalitas berlaku disini. ketika instisusi keuangan syariah berkembang, maka sistem makro yang melingkupinya -dalam hal ini kapitalsime- maka akan turut berkembang pula. Dan ketika misalnya institusi keuangan islami berkembang pada sistem islam, maka secara langsung akan mempengaruhi eksistensi sistem islam juga.
Sangat disayangkan memang, dimana seharusnya sistem ini mampu diterapkan untuk memberikan pemahaman dan menitihnya kejalur yang benar, tetapi malah terjebak pada masalah dimana implikasinya memberikan efek yang sebaliknya. Bisa diprediksi kedepannya bahwa penerapan sistem ekonomi islam yang secara praktis ini dengan prototype'nya yaitu institusi keuangan syariah justru akan memberikan dukungan terhadap eksistensi dan perkembangan kapitalisme yang masih berkuasa dengan angkuhnya saat ini.
Penutup
Sudah saatnya bagi muslim untuk mampu berpikir cemerlang dengan menerapkan skala prioritas yang paling utama. Apapun analisisnya, pada tahapan akhir akan diketemukan bahwa permasalahan ini umat isalam adalah masalah kebangkitan yang mendesak. Akankah umat bangit dengan kesejahteraan ekonomi, ataukah dengan akhlak, ataukah dengan mendirikan berbagai macam sekolah atau dll? Perlu untuk diketahui bahwa titik pangkal perubahan adalah pada pemikiran dan pemahaman masyarakat secara menyeluruh tentang kondisi yang sebenarnya melingkupi mereka dan juga kesadaran akan kewajiban mereka sebagai seorang muslim.
Pembahasan mengenai metode kebagkitan dijelaskan dalam artikel lain di web blog ini.
what's wrong with the present civilization? I think everything is good, I feel comfort and happy in passing my life. why does it need to be changed? is it proper question for today condition? I don't think so..... just open your eyes for a few moments, and see what happen surround you, then conclude what this life seems like.... so many think which need to be changed if we wanna the better condition. We need more than just a change, I mean a Revolution!!
Kamis, 14 Februari 2008
Institusi Keuangan Syariah Pro Kapitalisme
Diposting oleh
'revolution', just the matter of time!
di
Kamis, Februari 14, 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar